Pesan Untuk Remaja

Pesan untuk Remaja – Mari Jaga Kesehatan Mental demi Masa Depan yang Lebih Cerah

oleh Leonardus Ivan Taruna Mahardhika

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang berlangsung pada rentang umur 12-20 tahun[1]. Pada masa peralihan ini, terjadi banyak perubahan secara fisik, psikologis, hormonal, dan sosial[2]. Perubahan secara psikologis salah satunya adalah terjadinya perubahan emosional. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya perubahan hormonal dan sosial. Adanya perubahan tekanan sosial yang dihadapi dapat berakibat pada ketidakstabilan emosi.

Ketidakstabilan emosi akibat perubahan tekanan sosial yang dihadapi dapat memicu terjadinya depresi pada remaja. Gejala depresi ditandai dengan perasaan mudah tersinggung, tertekan, takut, tidak bersemangat, sedih, konflik dengan teman, dan konflik dengan keluarga[3]. Depresi yang dialami oleh remaja dapat memicu munculnya ide untuk bunuh diri. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran ide bunuh diri yaitu kehilangan cinta, pengaruh lingkungan, perasaan tidak berdaya, masalah akademis, dan masalah keluarga seperti perceraian dan meninggal[4].

Menurut WHO (2017), kejadian depresi tertinggi di wilayah Asia Tenggara sebanyak 86,94 (27%) dari 322 milliar individu dan Indonesia berada di urutan ke lima dengan angka kejadian depresi sebesar 3,7%[5]. Berdasarkan hasil RISKESDA 2018, kejadian depresi pada umur ≥15 tahun sebesar 6,1%[6]. Kemudian, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Global berbasis sekolah (2015), 18,6% remaja di DKI Jakarta mempunyai keinginan bunuh diri, dengan remaja yang mengalami gangguan emosional sebesar 35% mempunyai ide bunuh diri dan remaja normal sebesar 14% mempunyai ide bunuh diri[7].

Oleh karena itu, orang tua sebagai lingkungan terdekat para remaja harus bisa lebih peka terhadap perubahan-perubahan yang dialami anak-anaknya yang sedang berada di fase remaja. Hal tersebut dikarenakan dampak dari depresi pada remaja berupa mudah putus asa, harga diri rendah, dan isolasi sosial, dapat memicu ide bunuh diri apabila berkelanjutan dan tidak ditangani sesegera mungkin. Orang tua harus bisa menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anaknya berkeluh kesah tentang masalah yang sedang dihadapinya. Permasalahan yang sedang dihadapi sebaiknya tidak dipendam sendiri. Selain kepada orang tua, para remaja juga dapat bercerita kepada teman, sahabat, atau pasangan yang dapat dipercaya. Dengan bercerita, para remaja dapat mengeluarkan emosi-emosi negative yang dirasakan dan mungkin juga dapat menerima saran dan masukan untuk menghadapi masalah yang dihadapi.


[1] Mandasari, L., & Tobing, D,L. (2020). TINGKAT DEPRESI DAN IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA. Indonesian Jurnal of Health Development. 2(1).

[2] Putri, K.F, & Tobing, D.L, (2020). Tingkat Resiliensi dengan Ide Bunuh Diri Pada Remaja. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia. 10(1).

[3] Rahmayanti, Y.E, & Rahmawati, E. (2018). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kejadian Depresi Pada Remaja Awal.Jurnal Asuhan Ibu & Anak. 3(2): 47-57

[4] Pramana, R. D., Psikologi, P. S., Wayan, N., Puspitadewi, S., & Psikologi, P. S. (2014).Hubunganantara Kecerdasan Emosi dan Tingkat Depresi dengan Ide Bunuh Diri Hubungan antara Kecerdasan Emosi Dan Tingkat Depresi, 1–6.

[5] World Health Organization. (2017). Depression And Other Common Mental Disoders. Global health estimate

[6] Kemenkes RI.Laporan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) Indonesia 2018.Jakarta : badan penelitian dan pengembangan kesehatan dasar

[7] Kemenkes RI.Perilaku Berisiko Kesehatan Pada Pelajar SMP Dan SMA Di Indonesia 2015.Jakarta : Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hallo
Ingin tanya
chat di sini